Menyelesaikan Masalah Transportasi di Tingkat Dunia

Menyelesaikan Masalah Transportasi di Tingkat Dunia – Awal tahun ini Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) sebuah LSM nirlaba yang berbasis di New York yang berfokus pada pengembangan sistem angkutan cepat bus, mempromosikan transportasi bersepeda, berjalan kaki, dan tidak bermotor, dan meningkatkan margin operator bus swasta dan Sustainable Transport Award Committee (STAC) mengumumkan kota Jakarta sebagai pemenang Sustainable Transport Award (STA) 2021, hal itu mengejutkan tidak hanya warga Jakarta, tetapi juga masyarakat di berbagai provinsi di Indonesia.

Menyelesaikan Masalah Transportasi di Tingkat Dunia

transportationissuesdaily – Sungguh sukses yang mengejutkan. Menghadirkan STA 2021 ke Jakarta mungkin juga akan mengejutkan orang asing atau ekspatriat yang tinggal di ibu kota. Apa yang telah dilakukan Pemprov DKI Jakarta hingga menjadikan kota berpenduduk lebih dari 10 juta jiwa, yang jaringan transportasinya melayani sekitar 30 juta di wilayah kota besar dan di mana kemacetan dan polusi udara telah menjadi keluhan abadi baik oleh penduduk domestik maupun asing, layak mendapatkan penghargaan bergengsi ini. menghadiahkan?

Baca juga : Masalah “FIRST MILE/LAST MILE” Untuk Transit?

Bagi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yang saat ini memasuki tahun kelima masa jabatannya, beserta jajaran dan jajarannya yang bekerja di bawah Pemprov, keberhasilan mereka membawa STA 2021 ke Jakarta bukan semata-mata karena keberuntungan. Itu juga tidak disengaja.

Penghargaan tersebut merupakan bukti kuat dari kemauan, tekad, dan kerja keras mereka yang kuat untuk mencapai target yang sebelumnya tidak mudah dicapai. Berbagai periode gubernur di masa lalu mungkin berusaha keras untuk memenuhi janji mereka untuk mengatasi masalah transportasi yang rumit yang menyebabkan kemacetan di Jakarta, tetapi itu tidak membawa hasil yang sama seperti Anies.

Fakta bahwa mobilitas masyarakat Jakarta dan sekitarnya cukup tinggi dan banyak beban terkait lalu lintas membuat biaya transportasi individu di Jakarta cukup mahal, bahkan semakin mahal. Ini adalah penyebab utama yang penting dalam perspektif ekonomi.

Oleh karena itu, pola transportasi antarmoda di Metropolitan Jakarta, yang pernah menjadi kontributor utama kemacetan yang menyebabkan peningkatan biaya transportasi, diterapkan untuk mengurangi beban terkait lalu lintas.

Banyak moda transportasi telah beroperasi untuk melayani konsumen di Jakarta dan sekitarnya. Jaringan transportasi umum juga dibangun oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, pemerintah pusat dan swasta, seperti TransJakarta, JakLingko, Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta, Light Rail Transit (LRT) Jakarta, KRL Commuter-Line, dan bahkan KAI Bandara (Railink) yang mengoperasikan kereta api yang menghubungkan beberapa stasiun ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Namun, berbagai angkutan umum tersebut belum terintegrasi dalam satu sistem. Mereka berjalan di jalan mereka sendiri. Selain itu, sebelumnya dianggap tidak efektif, tidak efisien, tidak aman, tidak nyaman, bahkan rumit.

Akibatnya, angkutan umum menjadi kurang populer dan sebagian masyarakat masih mengandalkan kendaraan pribadi, mobil, dan sepeda motor yang kini berjumlah puluhan juta unit. Situasi ini membuat jalanan semrawut.

Untuk mewujudkan janji kampanyenya, Gubernur Anies bergerak cepat dan terukur dalam menafsirkan sumber kemacetan itu. Bekerjasama dengan pemangku kepentingan lainnya, seperti Badan Usaha Milik Negara/BUMN, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan swasta, ia terus berupaya mewujudkan transportasi yang terintegrasi, efektif, efisien, nyaman, aman, dan terjangkau. sistem.

Lima strategi telah ia lakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan transportasi massal di Jakarta. Pertama, dengan melakukan single charge Rp 5 ribu ke mana saja di seluruh pelosok Jakarta. Kedua, meningkatkan kenyamanan dalam transportasi umum. Selain peremajaan kendaraan, rute terpadu akan ditambah. Ketiga, rencana penambahan jumlah halte dan transit.

Keempat, memperhatikan kesejahteraan pengemudi dengan memberikan insentif berdasarkan jarak, bukan jumlah penumpang yang akan diangkut. Kelima, berencana untuk memberikan pendidikan dan pelatihan kepada pengemudi secara berkala. Menurut Anies, kemacetan juga disebabkan oleh pengemudi yang tidak berpendidikan.

Integrasi antarmoda tersebut dimulai dari penataan infrastruktur di sejumlah kawasan stasiun kereta commuter line, membuat halte busway yang nyaman dan ramah bagi penyandang disabilitas, revitalisasi jembatan penyeberangan pejalan kaki (JPO) hingga pembangunan jembatan penyeberangan pejalan kaki multiguna (JPM). ). Penataan trotoar juga merupakan bagian dari program ini.

The joint venture between PT MRT Jakarta (Perseroda) and PT Kereta Api Indonesia (Persero), namely PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ) was assigned to arrange a number of stations divided into two stages.

The arrangement of the first stage was carried out at Juanda Station, Pasar Senen, Tanah Abang and Sudirman which was inaugurated on June 17, 2020. The second stage was carried out at Tebet Station, Palmerah, Gondangdia, Manggarai and Jakarta Kota.

Penataan dua stasiun yakni Stasiun Tebet dan Stasiun Palmerah sudah selesai namun di Stasiun Manggarai mencapai 95 persen dan Stasiun Gondangdia 69 persen. Penataan dua stasiun ditargetkan selesai tahun ini, sedangkan penataan di Stasiun Jakarta Kota selesai pada 2022.

Sementara itu, MRT Jakarta ditugaskan untuk melaksanakan pembangunan Simpang Temu atau Transport Hub Dukuh Atas yang terletak di lahan eks Pasar Blora, Menteng, Jakarta Pusat. Seperti dilansir situs resmi ppid.jakarta.go.id, Simpang Temu merupakan simbol pertemuan berbagai moda transportasi.

Dalam pelaksanaan proyek pembangunan ini, MRT Jakarta bekerja sama dengan Perumda Pasar Jaya, PT Pembangunan (Persero) dan pemangku kepentingan lainnya. Perancangan Simpang Temu Dukuh Atas yang pembangunannya ditargetkan selesai pada April 2023 ini merupakan hasil sayembara dimana karya tersebut berorientasi pada pejalan kaki, pengguna sepeda dan ruang terbuka publik yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Simpang Temu Dukuh Atas akan dibangun di atas lahan seluas 3.129 meter persegi, berdasarkan sertifikat tanah, yang akan digunakan untuk pembangunan sekitar 2.445 meter persegi di atas tanah milik Perumda Pasar Jaya. MRT Jakarta akan melakukan skema sewa lahan. Peresmian pembangunan Simpang Temu Dukuh dilakukan Gubernur Anies pada Rabu 13 Oktober 2021.

MITJ juga ditugaskan untuk pembangunan JPM dan revitalisasi Stasiun Sudirman. JPM yang akan menjadi tempat bertemunya pengguna dari berbagai moda transportasi ini ditargetkan bisa beroperasi pada Juni 2022, seiring dengan rencana pengoperasian LRT Jabodebek.

”Pengembangan kawasan ini diharapkan dapat mencerminkan orientasi masa depan, yang diharapkan dapat menjadi pemicu regenerasi perkotaan, sehingga Jakarta setara dengan kota-kota besar lainnya di dunia dan sebagai perwujudan kota layak huni. Titik ini bermula di kawasan Dukuh Atas menjadi kawasan pertama yang kami lakukan pengembangan dengan konsep transit oriented,” kata Anies saat peresmian.

Ia berharap perkembangan ini bisa menjadi momentum perubahan sistem transportasi Jakarta, dari berorientasi mobil pribadi menjadi berorientasi angkutan umum. Dengan demikian, masyarakat Jakarta memiliki kemudahan dalam mengakses transportasi umum baik dari segi fasilitas maupun biaya angkutan umum jenis apapun.

Okupansi JakLingko dan Mass Transit

Selain penataan infrastruktur, sistem transportasi terpadu juga melakukan penataan pada sistem pembayaran atau ticketing.

Kolaborasi perusahaan transportasi milik Pemprov DKI Jakarta, yakni PT MRT Jakarta, PT Transjakarta, PT Jakarta Propertindo (Jakpro), dan PT MITJ, membentuk perusahaan patungan di bidang sistem pembayaran bernama PT JakLingko Indonesia.

PT JakLingko Indonesia telah meluncurkan tahap pertama integrasi antarmoda di ibu kota melalui kartu pintar dan aplikasi (super apps) pada 29 September 2021, bersamaan dengan peresmian penataan Stasiun Tebet.

JakLingko terus memperluas uji coba di semua stasiun dan halte transportasi antarmoda, yaitu Commuter Line, TransJakarta, MRT Jakarta, LRT Jakarta, dan kereta bandara.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjanjikan sistem integrasi transportasi di bawah jaringan PT JakLingko Indonesia untuk memberikan tarif yang adil bagi warga di ibu kota.

”Super apps’ dan sistem ticketing ini selain lebih nyaman, juga lebih merata karena jika selesai akan memberikan harga yang berbeda dengan penumpang yang berbeda,” kata Anies saat peresmian.

Pada tahap kedua, pengguna jasa transportasi akan diterapkan tarif terintegrasi antar moda yang lebih terjangkau. Pada tahap ini, JakLingko bekerja sama dengan sejumlah perusahaan untuk membangun ekosistem transportasi umum seperti ojek dan ojek online serta pariwisata hingga sektor kuliner.

Anies meyakini, optimalisasi angkutan umum harus menjadi program inti dalam mengurai kemacetan dari masalah kompleksitas transportasi perkotaan di Jakarta.

Didukung oleh tim bernama ”Tim Tangguh”, Anies jelas menyusun kebijakannya berdasarkan data empiris sehingga program tersebut bukan hanya angan-angan, apalagi prank atau hoax, untuk mengelabui masyarakat. Setiap program harus memiliki ide yang tepat, harus diterjemahkan ke dalam narasi yang jelas untuk tujuan yang layak, realistis dan berhasil.

Dalam dua tahun pertama memimpin ibu kota, Gubernur Anies melaporkan terjadi peningkatan signifikan okupansi angkutan massal sejak 2017. Jumlah penumpang TransJakarta naik hampir 2 kali lipat menjadi 640 ribu penumpang per hari dan jumlah armada juga meningkat dari 2.380 unit pada 2017 menjadi 3.548 unit pada 2019.

Kemudian, rata-rata jumlah penumpang MRT Jakarta mencapai 94.824 orang per hari pada Juli 2019. Sedangkan uji coba LRT Jakarta telah melayani 798.000 penumpang pada periode 11 Juni hingga 13 Oktober 2019.

Selama pandemi Covid-19, menurut laporan resmi Dinas Perhubungan DKI Jakarta, penggunaan sarana angkutan umum perkotaan selama masa pembatasan kegiatan umum bertingkat (PPKM) meningkat sekitar 18,34 persen dibandingkan pembatasan sosial berskala besar ketiga. (PSBB) diterapkan sebelumnya.

Secara rinci, peningkatan tertinggi terjadi pada penggunaan layanan MRT sekitar 71,52 persen, disusul LRT (30,44 persen), KRL (19,18 persen), TransJakarta (15,15 persen) dan kereta bandara (9,03 persen).

Anies juga memprioritaskan kebijakan untuk memperluas penggunaan alat porting non-emisi. Meski sebagian besar pengguna e-vehicle berasal dari Jakarta, diakuinya tak banyak prestasi di Jakarta yang membanggakan di bidang transportasi ini. Jelasnya, penggunaan kendaraan berbasis baterai erat kaitannya dengan kebijakan pemerintah pusat dan peraturan perundang-undangan yang ada. Ini di luar wewenang dan kompetensinya.

Anies mengaku terpaksa mengalahkan kepentingan pemilik kendaraan pribadi demi kepentingan angkutan umum dan program untuk mendorong pejalan kaki alias ‘trotoar’.

Udara Lebih Bersih

Prestasi penting Gubernur Anies lainnya dalam penyelenggaraan transportasi umum di Jakarta disampaikan oleh TomTom, perusahaan teknologi lokasi asal Belanda. Dalam laporan tahunannya, Indeks Lalu Lintas TomTom 2020, Jakarta tidak lagi berada di antara 10 kota teratas dunia yang dikenal dengan kemacetan lalu lintas dan polusi udaranya.

Dalam laporan terbaru, Jakarta berada di peringkat 37 – peningkatan signifikan dari peringkat 10 pada 2019. Tahun lalu tingkat kemacetan di Jakarta adalah 36 persen, menurun drastis dibandingkan tiga tahun sebelumnya. Pada 2019, misalnya, dengan tingkat kemacetan 53 persen, Jakarta masuk 10 besar kota paling ‘mahal’ di dunia karena kemacetan lalu lintas.

Laporan terbaru TomTom seharusnya membuat masyarakat Jakarta senang karena mereka bisa menghirup udara lebih bersih karena emisi karbon yang dihasilkan mobil, sepeda motor, dan kendaraan bermotor lainnya tidak lagi berada pada level bahaya.